Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil dan Pengaruhnya pada Kepercayaan Diri Siswa

Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil dan Pengaruhnya pada Kepercayaan Diri Siswa

Bayangkan dua siswa dengan kemampuan yang sama persis. Yang satu masuk sekolah unggulan dan berada di peringkat tengah bawah. Yang lain masuk sekolah biasa dan menjadi salah satu yang teratas. slot gacor Kemampuan mereka tidak berbeda, tapi cara keduanya memandang dirinya sendiri hampir pasti berbeda jauh, dan perbedaan itu punya akibat yang bertahan lama.

Penilaian Diri Selalu Bersifat Membandingkan

Manusia hampir tidak pernah menilai kemampuannya secara mutlak. Yang dipakai selalu perbandingan dengan orang di sekitar.

Seorang siswa yang mendapat nilai tujuh puluh tidak menafsirkan angka itu sendirian. Dia melihat sekeliling. Kalau sebagian besar teman sekelasnya mendapat delapan puluh ke atas, tujuh puluh terasa seperti kegagalan. Kalau rata-rata kelasnya enam puluh, angka yang sama terasa seperti keberhasilan.

Karena itu, penilaian seseorang terhadap kemampuannya sendiri lebih ditentukan oleh siapa yang duduk di sebelahnya daripada oleh kemampuannya yang sebenarnya.

Akibat yang Tidak Berhenti pada Perasaan

Kalau efeknya hanya soal perasaan, mungkin persoalannya kecil. Masalahnya, penilaian terhadap diri sendiri memengaruhi keputusan berikutnya.

Siswa yang merasa dirinya lemah dalam suatu bidang cenderung menghindari kelas lanjutan di bidang itu, menyerah lebih cepat ketika menghadapi soal sulit, dan tidak memilih jurusan yang berkaitan ketika melanjutkan pendidikan. Keputusan-keputusan ini menyempitkan pilihan hidupnya, dan semuanya berawal dari perbandingan dengan sekelompok orang yang kebetulan berada di ruangan yang sama.

Sebaliknya, siswa yang merasa mampu cenderung mengambil tantangan lebih besar, bertahan lebih lama saat kesulitan, dan memilih jalur yang lebih menuntut.

Sisi Lain dari Sekolah Unggulan

Temuan ini tidak berarti sekolah dengan lingkungan akademik kuat merugikan. Ada keuntungan nyata dari berada di antara teman sebaya yang mendorong, guru yang menuntut lebih, dan materi yang lebih dalam.

Yang terjadi adalah dua efek yang berlawanan arah dan bekerja bersamaan. Lingkungan yang kuat menaikkan pencapaian, sementara perbandingan yang berat menurunkan penilaian diri. Hasil akhirnya bergantung pada mana yang lebih dominan untuk anak tertentu.

Anak yang tahan terhadap perbandingan dan punya dukungan kuat di rumah cenderung diuntungkan. Anak yang kepercayaan dirinya rapuh bisa mengalami penurunan yang tidak sebanding dengan tambahan pengetahuan yang didapat.

Peringkat Kelas yang Dipajang

Praktik yang memperkuat efek ini adalah pengumuman peringkat secara terbuka. Ketika seorang anak diberi tahu dia berada di urutan ke dua puluh delapan dari tiga puluh dua, informasi itu tidak memberikan petunjuk apa pun tentang apa yang perlu diperbaiki.

Yang disampaikan hanyalah posisinya relatif terhadap orang lain, dan pesan itu diterima sebagai pernyataan tentang siapa dirinya, bukan tentang apa yang belum dikuasainya.

Umpan balik yang menunjukkan kemajuan seseorang dibanding dirinya sendiri beberapa bulan lalu memberi informasi yang jauh lebih berguna dan tidak menimbulkan efek samping yang sama.

Yang Bisa Dilakukan Guru

Beberapa hal yang tampak sederhana punya pengaruh cukup besar. Menghindari pembacaan nilai secara terbuka. Menekankan penguasaan materi tertentu sebagai patokan, bukan urutan. Memberi kesempatan seorang siswa menunjukkan kekuatannya di bidang lain agar penilaian dirinya tidak bertumpu pada satu ukuran saja.

Menjelaskan secara terbuka bahwa merasa biasa saja di lingkungan yang isinya orang-orang kuat adalah hal yang wajar juga membantu, karena banyak siswa mengira dirinya sendiri yang bermasalah.

Penutup

Cara seorang siswa menilai kemampuannya bukan cerminan langsung dari kemampuan itu, melainkan hasil perbandingan dengan lingkungan tempat dia kebetulan berada. Karena penilaian diri ini ikut menentukan pilihan yang diambil bertahun-tahun kemudian, ia bukan urusan sepele yang bisa diabaikan demi mengejar angka. Menempatkan seorang anak di lingkungan yang menantang tetap bisa menjadi keputusan baik, asal disertai kesadaran bahwa ada harga yang perlu diperhatikan dan ditangani, bukan dianggap tidak ada.